MAJLIES eL _ ILMIE

MAJLIES   eL _ ILMIE

Senin, 29 Juli 2013

SUARA WANITA BUKANLAH AURAT

Pendapat yang ashoh dalam madzhab syafi'i menyatakan bahwa suara wanita bukanlah aurot, karena istri-istri Nabi sendiri biasa meriwayatkan hadits kepada para lelaki, selain itu, dizaman nabi ketika ada seorang wanita meminta penjelasan tentang persoalan agama, para wanita menyampaikannya langsung pada Nabi, seperti dikisahkan dalam satu  hadits ;

عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: دَخَلَتْ هِنْدٌ بِنْتُ عُتْبَةَ امْرَأَةُ أَبِي سُفْيَانَ عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيحٌ، لَا يُعْطِينِي مِنَ النَّفَقَةِ مَا يَكْفِينِي وَيَكْفِي بَنِيَّ إِلَّا مَا أَخَذْتُ مِنْ مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمِهِ، فَهَلْ عَلَيَّ فِي ذَلِكَ مِنْ جُنَاحٍ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: خُذِي مِنْ مَالِهِ بِالْمَعْرُوفِ مَا يَكْفِيكِ وَيَكْفِي بَنِيكِ
"Dari ‘Aisyah berkata : Hindun bintu ‘Utbah yakni istri Abu Sufyan datang menemui Rasulullah saw lalu dia berkata : wahai Rasulullah, sungguh Abu Sufyan itu adalah laki-laki yang pelit (bakhil), dia tidak memberi nafkah kepada saya yang mencukupi kebutuhan saya maupun anak saya kecuali jika aya mengambil dari harta dia tanpa sepengetahuannya. Apakah perbuatan saya itu dosa? Maka Rasulullah saw menjawab : ambillah olehmu dari harta dia secukupnya hingga akan dapat memenuhi kebutuhan dirimu dan anakmu." (Shohih Muslim, no.1714)

Jadi, karena suara wanita bukanlah aurot menurut pendapat yang shohih, maka tidak diharamkan mendengarkan suaranya. Namun bagi seorang wanita hendaknya tidak merendahkan/melembutkan suaranya didepan laki-laki lain (laki-lakiyang bukan mahromnya) agar tidak menimbulkan fitnah. Alloh berfirman :

 فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ
"Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya." (Q.S. Al-Ahzab : 32)

Yang dimaksud dengan tunduk di sini ialah berbicara dengan sikap yang menimbulkan keberanian orang bertindak yang tidak baik terhadap mereka. Sedangkan  yang dimaksud dengan dalam hati mereka ada penyakit Ialah: orang yang mempunyai niat berbuat serong dengan wanita, seperti melakukan zina.

Karena itulah, meskipun suara wanita bukanlah aurot, tapi para ulama' menetapkan bahwa apabila orang yang mendengarnya takut menimbulkan fitnah atau merasa ladzdzah (enak), maka diharomkan baginya mendengar suara seorang wanita. Wallohu a'lam

Al-Bayan, Juz : 11  Hal : 188
وروت عائشة - رضي الله عنها -: أن هند امرأة أبي سفيان جاءت إلى النبي - صلى الله عليه وسلم -، وقالت: يا رسول الله، إن أبا سفيان رجل شحيح، وإنه لا يعطيني وولدي إلا ما آخذه منه سرا ولا يعلم، فهل علي في ذلك شيء؟ فقال - صلى الله عليه وسلم -: خذي ما يكفيك وولدك بالمعروف» قال أصحابنا: وفي هذا الخبر فوائد: -إلى أن قال- السابعة: أن صوت المرأة ليس بعورة

Al-Fiqhu Alal Madzahib Al-Arba'ah, Juz : 5  Hal : 53
حكم صوت المرأة
اختلف العلماء في صوت المرأة فقال بعضهم إنه ليس بعورة، لأن نساء النبي كن يروين الأخبار للرجال

Hasyiyah Qulyubi Ala Syarhil Mahalli, Juz : 1  Hal : 201
فائدة : صوت المرأة ليس بعورة على الصحيح فلا يحرم سماعه

Hasyiyah I'anatut Tholibin, Juz : 3  Hal : 302
قوله: وليس من العورة الصوت) أي صوت المرأة، ومثله صوت الامرد فيحل سماعه ما لم تخش فتنة أو يلتذ به وإلا حرم (قوله: فلا يحرم سماعه) أي الصوت. وقوله إلا إن خشي منه فتنة أو التذ به: أي فإنه يحرم سماعه، أي ولو بنحو القرآن، ومن الصوت: الزغاريد. وفي البجيرمي: وصوتها ليس بعورة على الاصح، لكن يحرم الاصغاء إليه عند خوف الفتنة

Al-Fiqhul Manhaji, Juz : 1  Hal : 164
ثانيا: تخفض المرأة صوتها في حضرة الرجال الأجانب، فلا تجهر بالصلاة الجهرية خشية الفتنة، قال تعالى: {فلا تخضعن بالقول فيطمع الذي في قلبه مرض} [الأحزاب: 32]. [تخضعن بالقول: تلين كلامكن. مرض: فسوق وقلة ورع]. وهذا يدل على أن صوت المرأة قد يثير الفتنة، فيطلب منها خفض الصوت بحضرة الأجانب

ACARA 7 BULANAN

Acara 7 bulanan kehamilan dalam adat jawa disebut dengan "mitoni", acara disebut juga dengan "tingkepan", berasal dari bahasa jawa : sing dienti-enti wis mathuk jangkep (yang ditunggu-tunggu sudah hampir sempurna) karena pada masa ini umur kandungan sudah mendekati masa kelahira. Disebagian daerah acara ini disebut dengan "kabba" yang berarti membalik, karena pada usia kandungan ini, janin yang berada dalam kandungan terbalik, kepalanya dibawah setelah sebelumnya diatas. Dan biasanya pada acara tersebut disuguhkan makanan-makanan tertentu yang dihidangkan bagi para tamu yang diundang.

Dalam pandangan fiqih, segala bentuk jamuan yang disuguhkan dan dihidangkan dalam waktu-waktu tertentu, seperti saat pernikahan, khitan, kelahiran atau atau hal-hal lain yang ditujukan sebagai wujud rasa kegembiraan itu dinamakan walimah, hanya saja kata walimah biasanya diidentikkan dengan hidangan dalam acara pernikahan (walimatul 'arus).

Semua ulama' sepakat bahwa selain walimatul 'arusy hukumnya tidak wajib, namun menurut madzhab syafi'i mengadakan perjamuan/hidangan selain untuk walimatul arusy hukumnya sunat, sebab hidangan tersebut dimaksudkan untuk menampakkan nikmat Alloh dan sebagai wujud rasa syukur atas  nikmat tersebut, dan disunatkan pula untuk menghadiri undangan jamuan tersebut untuk menyambung hubungan baik sesama muslim dan menampakkan kerukunan dan persatuan . Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam bersabda:


 لَوْ دُعِيتُ إِلَى كُرَاعٍ لَأَجَبْتُ
“Seandainya aku diundang untuk jamuan makan sebesar satu satu paha belakang (kambing), pasti akan aku penuhi." (Shohih Bukhori, no.5178)

Dari  sudut pandang ini, acara 7 bulanan hukumnya boleh, bahkan sunat karena termasuk dalam walimah yang bertujuan untuk menampakkan rasa gembira dan syukur akan nikmat Alloh berupa akan lahirnya seorang bayi. Terlebih lagi apabila hidangan tersebut disuguhkan dengan mengundang orang lain dan diniati untuk sedekah sebagai permohonan agar ibu yang mengandung dan bayi yang dikandungnya terhindar dari mara bahaya. Para ulama' menyatakan bahwa hukum sedekah adalah sunat, apalagi jika dilakukan pada saat-saat penting dan genting, seperti pada bulan romadhon, saat terjadi gerhana, saat sakit, dan lain-lain. Dalam satuh hadits diriwayatkan :

الصَّدَقَةُ تَسُدُّ سَبْعِينَ بَابًا مِنَ السُّوءِ
"Besedekah itu bisa menutup tujuh puluh macam pintu keburukan". (Mu'jam Kabir Lit-Thobroni, no.4402).

Untuk pertanyaan kedua, memang benar tidak ditemukan bahwa nabi pernah mengerjakan acara seperti ini, karena memang ini adalah budaya suatu daerah, namun hal ini tidak serta merta menjadikan acara ini dihukumi bid'ah sayyi'ah/qobihah (bid'ah yang buruk). Karena bid'ah yang dianggap buruk apabila bertentangan dengan ajaran dan aturan dalam agama islam, sedangkan apabila tidak melanggar, atau bahkan malah mendapatkan payung hukum dari agama, maka termasuk dalam bid'ah hasanah (bid'ah yang baik). Jadi, selama dalam prosesi acaranya tidak terdapat hal-hal yang bertentangan dalam agama, acara ini tidak bisa dikategorikan dalam bid'ah sayyi'ah/qobihah.

Imam Asy-Syafi'i rohimahulloh berkata:

ما أحدث وخالف كتابًا أو سنة أو إجماعًا أو أثرًا فهو البدعة الضالة، وما أحدث من الخير ولم يخالف شيئًا من ذلك فهو المحمود
"Hal-hal yang baru yang menyalahi Alqur'an As-sunnah,Ijma'(kesepakatan  Ulama'),atau atsar maka itu bid'ah yang menyesatkan .Sedangkan suatu hal yang baru yang tidak menyalahi salah satu  dari keempatnya maka itu(bid'ah)yang terpuji".

Kesimpulan akhirnya, acara 7 bulanan atau tingkipen itu memang tak ada dalil khususnya dan tidak pernah dikerjakan oleh Nabi, namun boleh dikerjakan, bahkan hukumnya sunat apabila dikerjakan untuk menampakkan rasa gembira dan syukur atas nikmat Alloh, apalagi bila disertai dengan sedekah.Dan tentu saja acara ini diperbolehkan selama tidak terdapat hal-hal yang dilarang dalam prosesi acara tersebut. Wallohu a'lam.  

Al Umm, Juz : 6  Hal : 159
[الوليمة]
 أخبرنا الربيع بن سليمان قال حدثنا الشافعي إملاء قال إتيان دعوة الوليمة حق والوليمة التي تعرف وليمة العرس وكل دعوة كانت على إملاك أو نفاس أو ختان أو حادث سرور دعي إليها رجل فاسم الوليمة

Nihayatul Mathlab, Juz : 13  Hal : 187
قال الشافعي: " والوليمة التي تعرف وليمة العرس ... إلى آخره
أبان أن الوليمة تنطلق على كل مأدبة في إملاك، أو نفاس أو ختان، أو حادث سرور، ولكنها شهرت بما يتخذ في العرس

Al Bayan, Juz : 9  Hal : 480-481
ويسمى الطعام الذي يتخذ لسبب وغير سبب: مأدبة بضم الدال، وبفتحها: التأديب، وقال - صلى الله عليه وسلم -: «الجوع مأدبة الله في أرضه». وإنما سمي الطعام الذي يدعى إليه فى العرس وليمة من ولم الزوجين وهو اجتماعهما؛ لأن الولم الجمع، ومنه سمي القيد الولم؛ لأنه يجمع الرجلين. إذا ثبت هذا: فإن وليمة ما عدا العرس لا تجب؛ للإجماع، ولكن تستحب. وقال أحمد - رحمه الله تعالى -: (لا تستحب) ؛ لما روي: أن عثمان بن أبي العاص دعي إلى ختان، فلم يجب إليه وقال: (إنا كنا ندعى إلى الختان في عهد رسول الله - صلى الله عليه وسلم - ولا نجيب) . ودليلنا: ما روي: أن النبي - صلى الله عليه وسلم - «قال: لو دعيت إلى كراع.. لأجبت، ولو أهدي إلي ذراع أو كراع.. لقبلت» وقال - صلى الله عليه وسلم - «أجيبوا الداعي؛ فإنه ملهوف». ولأن فيه ألفة للقلوب وإظهار لنعم الله سبحانه وتعالى، فكان مستحبا. وأما الخبر: فما نقل فيه عن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - قول ولا فعل، فلا يكون حجة فيه

Al Majmu', Juz : 16  Hal : 392
باب الوليمة والنثر
الطعام الذى يدعى إليه الناس ستة: الوليمة للعرس، والخرس للولادة، والاعذار للختان، والوكيرة للبناء، والنقيعة لقدوم المسافر، والمأدبة لغير سبب ويستحب ما سوى الوليمة لما فيها من إظهار نعم الله والشكر عليها، واكتساب الاجر والمحبة، ولا تجب، لان الايجاب بالشرع ولم يرد الشرع بإيجابه

Roudhotut Tholibin, Juz : 2  Hal : 341
باب صدقة التطوع
هي مستحبة، وفي شهر رمضان آكد. قلت: وكذا عند الأمور المهمة، وعند الكسوف، والمرض، والسفر، وبمكة، والمدينة، وفي الغزو، والحج، والأوقات الفاضلة، كعشر ذي الحجة، وأيام العيد، ففي كل هذا الموضع آكد من غيرها

Faidhul Qodhir, Juz : 4  Hal : 236
الصدقة تسد سبعين بابا من السوء) كذا رأيته بالسين المهملة والهمزة ورأيت في عدة أصول صحيحة بشين معجمة وراء <تنبيه> قال المؤلف: الذكر أفضل من الصدقة وهو أيضا يدفع البلاء والظاهر أن المراد بالسبعين التكثير لا التحديد قياسا على نظائره وأن المراد بالباب الوجه والجهة

Hasyiyah I'anatut Tholibin, Juz : 1  Hal : 313
وقال ابن حجر في فتح المبين، في شرح قوله (ص): من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد، ما نصه: قال الشافعي رضي الله عنه: ما أحدث وخالف كتابا أو سنة أو إجماعا أو أثرا فهو البدعة الضالة، وما أحدث من الخير ولم يخالف شيئا من ذلك فهو البدعة المحمودة. والحاصل أن البدع الحسنة متفق على ندبها، وهي ما وافق شيئا مما مر، ولم يلزم من فعله محذور شرعي
 
 
http://fiqhkontemporer99.blogspot.com/2013/02/dasar-hukum-acara-7-bulanan-tingkepan.html

MENCANTUMKAN NAMA SUAMI PADA NAMA ISTRI

Pemberian identitas kepada seseorang itu bersifat lapang dan fleksibel, dan salah satunya dengan hubungan pernikahan, sebagaimana Alloh menyebut nama-nama istri nabi, seperti yang terdapat pada ayat :

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا لِلَّذِينَ كَفَرُوا اِمْرَأَةَ نُوحٍ وَامْرَأَةَ لُوطٍ
"Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir". (Q.S. At-Tahrim : 10)
Dalam satu hadits yang diriwayatkan dari Abu Said al-Khudri rodhiyallohu 'anhu. dikisahkan ;

جَاءَتْ زَيْنَبُ، امْرَأَةُ ابْنِ مَسْعُودٍ، تَسْتَأْذِنُ عَلَيْهِ، فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَذِهِ زَيْنَبُ، فَقَالَ: «أَيُّ الزَّيَانِبِ؟» فَقِيلَ: امْرَأَةُ ابْنِ مَسْعُودٍ، قَالَ: «نَعَمْ، ائْذَنُوا لَهَا
"Zainab istri Ibnu Mas'ud r.a. datang kepada beliau dan meminta izin untuk bertemu. Lalu salah seorang yang ada di rumah berkata, "Wahai Rasulullah, Zainab meminta izin untuk bertemu." "Zainab siapa?" tanya beliau. "Istri Ibnu Mas'ud." Lalu beliau berkata, "Ya, persilahkan dia masuk." (Shohih Bukhori, no.1462)
   
Sedangkan yang dilarang dalam Islam adalah menisbatkan diri kepada orang yang bukan ayahnya berdasarkan beberapa hadits yang melarang hal ini, diantaranya ;

مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ، وَهُوَ يَعْلَمُ فَالْجَنَّةُ عَلَيْهِ حَرَامٌ
"Barang siapa menisbatkan dirinya kepada selain ayah kandungnya padahal ia mengetahui bahwa itu bukanlah ayah kandungnya, maka diharamkan baginya surga". (Shohih Bukhori, no.4327,6766 dan Shohih Muslim, no.115)

Namun pelarangan ini pun apabila dilakukan dengan menggunakan kata-kata yang menunjukkan sebagai anak, seperti kata: anak, bin, binti dan lain sebagainya. Jadi yang dilarang bukan seluruh penisbatan atau penyebutan identitas. Penggunaan kata-kata tertentu untuk menjelaskan identitas seseorang sehingga menjadi kebiasaan dalam suatu masyarakat atau waktu tertentu adalah tidak apa-apa selama tidak menyeret pada kesalahpahaman adanya hubungan kekerabatan yang dilarang oleh syariat Islam.
Kesimpulannya mencantumkan nama suami pada nama istrinya hukumnya boleh. Wallohu a'lam.

Lembaga Fatwa Mesir, Fatwa No. 152, Tanggal 27/10/2008
إضافة لقب عائلة الزوج إلى اسم الزوجة

إلى أن قال- وباب التعريف واسع؛ فقد يكون بالولاء كما في: عكرمة مولى ابن عباس، وقد يكون بالحرفة كما في: الغزالي، وقد يكون باللقب أو الكنية، كالأعرج والجاحظ وأبي محمد الأعمش، وقد يُنسَب إلى أمه مع معرفة أبيه كما في: إسماعيل ابن عُلَيَّة، وقد يكون بالزوجية كما ورد في القرآن من تعريف المرأة بإضافتها إلى زوجها في مثل قوله تعالى: ﴿امْرَأَةَ نُوحٍ وَامْرَأَةَ لُوطٍ﴾ [التحريم: 10]، ﴿امْرَأَةَ فِرْعَوْنَ﴾ [التحريم: 11].
وقد روى البخاري ومسلم من حديث أبي سعيد الخدري رضي الله عنه أَنَّ زَيْنَبَ امْرَأَةَ ابْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا جَاءَتْ تَسْتَأْذِنُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ، فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذِهِ زَيْنَبُ تَسْتَأْذِنُ عَلَيْكَ، فَقَالَ: أَيُّ الزَّيَانِِبِ؟ فَقِيَلَ: امْرَأَةُ ابْنِ مَسْعُودٍ، قَالَ: نَعَمْ؛ ائْذَنُوا لَهَا, فَأُذِنَ لَهَا

والمحظور في الشرع إنما هو انتساب الإنسان إلى غير أبيه بلفظ البنوة أو ما يدل عليها، لا مطلق النسبة والتعريف، وقد يشيع بعض هذه الأشكال من التعريف في بعض الأماكن أو في بعض الأحوال ويغلب في الإطلاق حتى يصير عُرفًا، ولا حَرج في ذلك ما دام لا يوهم الانتساب الذي يأباه الشرع، وهو الانتساب بلفظ البنوة أو معناها إلى غير الأب

Tafsir At-Thobari, Juz : 23  Hal : 497
القول في تأويل قوله تعالى: {ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا لِلَّذِينَ كَفَرُوا اِمْرَأَةَ نُوحٍ وَامْرَأَةَ لُوطٍ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ (10) }. يقول تعالى ذكره: مَثَّل الله مثلا للذين كفروا من الناس وسائر الخلق امرأة نوح وامرأة لوط، كانتا تحت عبدين من عبادنا، وهما نوح ولوط فخانتاهما. ذُكر أن خيانة امرأة نوح زوجها أنها كانت كافرة، وكانت تقول للناس: إنه مجنون. وأن خيانة امرأة لوط، أن لوطًا كان يُسِرّ الضيف، وتَدُلّ عليه

Al-Fiqhu Alal Madzahib Al-Arba'ah, Juz : 10  Hal : 7248
ومنع الشرع أيضاً الأبناء من انتسابهم إلى غير آبائهم، فقال صلّى الله عليه وسلم: من ادعى إلي غير أبيه وهو يعلم، فالجنة عليه حرام
 
http://fiqhkontemporer99.blogspot.com/2013/03/hukum-mencantumkan-nama-suami-pada-nama.html

TAMU MEMBAWA PULANG MAKANAN YANG DIHIDANGKAN

Membawa pulang makanan yang dihidangkan hukumnya ditafsil:
1. Apabila apa yang disuguhkan oleh shohibul hajat (orang yang memiliki acara) memang dipersilahkan untuk dibawa pulang oleh shohibul hajat atau memang pada umumnya suguhan itu diberikan untuk dibawa pulang, seperti bingkisan makanan yang biasanya diberikan saat kendurinan atau tasyakuran dan acara lainnya, maka suguhan tersebut boleh dibawa pulang.
2. Apabila hidangan tersebut pada umumnya memang hanya untuk dimakan ditempat acara, seperti hidangan yang disuguhkan pada acara resepsi pernikahan atau suguhan untuk tamu, maka tamu tersebut hanya boleh memakannya ditempat, dan tidak diperbolehkan untuk membawanya pulang kecuali pemiliknya yang menyuruh untuk membawanya pulang atau ia meminta izin dahulu, begitu juga diperbolehkan membawanya pulang apabila yakin atau mempunyai prasangka yang kuat (dhon) bahwa pemiliknya ridho suguhannya dibawa pulang.
Namun meski orang yang memiliki keyakinan atau dzon bahwa pemiliknya mengizinkan membawa pulang suguhan tersebut, hal tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan keadaannya, termasuk keadaan pemilik rumah/acara, perihal undangan dan berapa kadar yang diambil. Maka dari itu, yang lebih ihtiyah (berhati-hati) nya meminta izin dulu apabila suguhan itu mau dibawa pulang. Wallohu a'lam. 

Roudhotut Tholibin, Juz : 7  Hal : 338-339
الثانية: هل يملك الضيف ما يأكله؟ وجهان. قال القفال: لا بل هو إتلاف بإذن المالك، وللمالك أن يرجع ما لم يأكل. وقال الجمهور: نعم. وبم يملك؟ فيه أوجه. قيل: بالوضع بين يديه، وقيل: بالأخذ، وقيل: بوضعه في الفم، وقيل: بالازدراد يتبين حصول الملك قبيله. وضعف المتولي ما سوى الوجه الأخير. وعلى الأوجه ينبني التمكن من الرجوع. قلت: قال صاحب «البيان» : إذا قلنا: يملكه بالأخذ أو بالوضع في الفم، فهل للآخذ إباحته لغيره والتصرف فيه بغير ذلك؟ وجهان. الصحيح [وقول الجمهور] لا يجوز كما لا يعير المستعار. وقال الشيخ أبو حامد والقاضي أبو الطيب: يجوز أن يفعل ما يشاء من البيع والهبة وغيرهما؛ لأنه ملكه. قال ابن الصباغ: هذا لا يجيء على أصلهما. والله أعلم
الثالثة: ليس للضيف التصرف في الطعام بما سوى الأكل، فلا يجوز أن يحمل معه منه شيئا، إلا إذا أخذ ما يعلم رضى المالك به، ويختلف ذلك بقدر المأخوذ وجنسه، وبحال المضيف والدعوة. فإن شك في وقوعه في محل المسامحة، فالصحيح التحريم، وليس للضيف إطعام السائل والهرة

Bughyatul Mustarsyidin, Hal : 449
فائدة : يملك الضيف ما ازدرده أي ملكا مراعى ، بمعنى أنه إذا أكله أكل ملكه ، ولا يتم ملكه إلا بازدراده ، فلو حلف لا يأكل طعام زيد فضيفه زيد وأكل لم يحنث ، لأنه إنما أكل ملكه لا ملك زيد ، نعم ما يقع من تفرقة نحو لحم على الأضياف يملكه ملكا تاما بوضع يده عليه ، وكذا الضيافة المشروطة على أهل الذمة يملكها بوضعها بين يديه ، فله الارتحال بها والتصرف فيها بما شاء ، قاله (م ر) اهـ بج على الإقناع

Hasyiyah Al-Bajuri Ala Fathul Qorib, Juz : 2  Hal : 128
ولا يتصرف فيما قدم له بغير أكل, لأنه مأذون فيه عرفا, فلا يطعم منه سائلا ولا هرة إلا بإذن صاحبه أو علم رضاه

Mughnil Muhtaj, Juz : 4  Hal : 409-410
وله) أي الضيف (أخذ ما يعلم رضاه) أي المضيف (به) والمراد بالعلم ما يشمل الظن؛ لأن مدار الضيافة على طيب النفس، فإذا تحقق ولو بالقرينة رتب عليه مقتضاه، ويختلف ذلك باختلاف الأحوال وبمقدار المأخوذ وبحال المضيف وبالدعوة، فإن شك في وقوعه في محل المسامحة، فالصحيح في أصل الروضة التحريم. قال في الإحياء: وإذا علم رضاه ينبغي له مراعاة النصفة مع الرفقة، فلا ينبغي أن يأخذ إلا ما يخصه أو يرضون به عن طوع لا عن حياء
 
 
http://fiqhkontemporer99.blogspot.com/2013/02/bolehkah-tamu-membawa-pulang-makanan.html

POHON MENJALAR KE TEMPAT ORANG LAIN

Dalam kitab-kitab fiqih dijelaskan, Apabila ada seseorang yang memiliki pohon yang rantingnya menjulur diatas tanah tetangganya,  maka orang yang memiliki pohon tersebut harus mau mengalihkan atau memotongnya. Jika ia tidak mau, maka diperbolehkan bagi tetangga tersebut untuk mengalihkannya atau memotongnya meskipun dengan tanpa izin dari aparat setempat ketika memang rantingnya tidak bisa dipindah. Selain itu, tidak diperbolehkan adanya kesepakatan antara keduanya untuk memberikan sejumlah uang sebagai ganti rugi tanahnya ditumbuhi rantang pohon, karena itu hanya sekedar membiarkan ranting pohon tumbuh diudara, kecuali apabila akar pohon tersebut merusak temboknya.Dan jika pemilik tanah diam saja, dan membiarkan ranting tersebut tumbuh, sampai berbuah diatas tanahnya, maka yang berhak atas buah tersebut adalah pemilik pohon.

Jadi, jika memang orang yang tersebut tidak terima ranting pohon orang lain tumbuh diatas tanahnya, maka ia boleh meminta kepada pemiliknya untuk menyingkirkannya, jika pemiliknya tidak mau, ia boleh menyingkirkannya sendiri, meskipun dengan cara memotongnya. Begitu juga ia boleh meminta rugi jika keberadaan pohon tersebut merusak tembok rumah atau tembok pagar rumahnya.

Sedangkan apabila ia merelakan ranting pohon tersebut tumbuh diatas tanahnya, ia tidak berhak mengambil buah tersebut, dan apabila mengambilnya harus meminta izin dulu pada pemiliknya.

Asnal Matholib, Juz : 2  Hal : 227

فرع له تحويل أغصان شجرة) لغيره مالت إلى هواء ملكه الخاص أو المشترك وقد (امتنع المالك) لها (من تحويلها عن هوائه و) له (قطعها) ولو (بلا) إذن (قاض إن لم تتحول) أي لم يمكن تحويلها

Bughyatul Mustarsyidin , Hal : 291
ولو انتشرت أغصان شجرة أو عروقها إلى هواء ملك الجار أجبر صاحبها على تحويلها ، فإن لم يفعل فللجار تحويلها ثم قطعها ولو بلا إذن حاكم كما في التحفة

Hasyiyah Al Bujairomi Ala Syarhil Manhaj, Juz : 3 Hal : 13
ولا يصح الصلح على بقاء الأغصان بمال لأنه اعتياض عن مجرد الهواء فإن اعتمدت على الجدران صح الصلح عنها يابسة لا رطبة لزيادتها وانتشار العروق

Bughyatul Mustarsyidin, Hal : 547
كما لو انتشرت أغصان شجرة في هواء ملكه فيجبر على إزالتها وتسوية الأرض بلا أجرة مدة التسوية لعدم تعديه ، فإن رضي صاحب الأرض ببقائه فالغلة لمالك البذر

HUKUM KAMAR MANDI DIDALAM RUMAH/KAMAR

Pertama, dimanapun tempatnya, kamar mandiatau wc adalah tempat dari setan, karena setan menyukai tempat – tempat yang kotor. Karena itulah kita dianjurkan untuk berdo’a agar dilindungi dari gangguan setan saat akan masuk tempat –tempat tersebut, sebagaimana dijelaskan dalam beberapa hadits, diantaranya hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik rodhiyallohu ‘anhu;


كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْخَلَاءَ قَالَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ

"Apabila Nabi shollallohu 'alaihi wasallam hendak masuk jamban, beliau mengucapkan: 'ALLOHUMMA INNI A'UUDZUBIKA MINAL KHUBUTSI WAL KHOBAAITS (Ya Alloh, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki maupun perempuan) '." (Shohih Bukhori, no.6322)

Kedua, memang terdapat satu hadits yang meriwayatkan bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda ;

لَا يُنْقَعُ بَوْلٌ فِي طَسْتِ فِي الْبَيْتِ، فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَا تَدْخُلُ بَيْتًا فِيهِ بَوْلٌ يُنْقَعُ

“Tidak diperbolehkan membiarkan air kencing didalam baskom/bak,karena sesungguhnya Malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang didalamnya terdapat air kencing yang tergenang” (Mu’jam Ausath, No.2077)

Namun, Para ulama menyatakan bahwa yang dimaksud hadits tersebut adalah larangan untuk membiarkan air kencing berada didalam rumah dalam waktu lama, sedangkan apabila setelah biar air langsung disiram, maka tidak mengapa buang air didalam rumah. Karena itulah dalam hadits yang lain diriwayatkan bahwa Nabi juga pernah buang air kecil didalam rumah.

عَنْ حُكَيْمَةَ بِنْتِ أُمَيْمَةَ بِنْتِ رُقَيْقَةَ عَنْ أُمِّهَا أَنَّهَا قَالَتْ كَانَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدَحٌ مِنْ عِيدَانٍ تَحْتَ سَرِيرِهِ يَبُولُ فِيهِ بِاللَّيْلِ

"Dari Hukaimah binti Umaimah binti Ruqaiqah dari Ibunya bahwasanya dia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memiliki bejana dari pelepah kurma (yang beliau letakkan) di bawah ranjangnya, yang beliau gunakan untuk buang air kecil pada waktu malam hari.”
(Sunan Abu Dawud, no.24, Sunan Baihaqi, no.481 dan Mustadrok Lil-Hakim, no.593)

Nabi melakukannya karena air kencing yang diletakkan dalam bejana itu tidak dibiarkan didalam rumah dalam waktu yang lama, sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Waliyyuddin Al-Iroqi.

Jadi kesimpulannya, membuat kamar mandi atau wc didalam rumah atau didalam kamar itu diperbolehkan, karena tidak ada dalil atau alas an yang kuat untuk melarangnya, sedangkan pada dasarnya hokum segala sesuatu adalah mubah (diperbolehkan) selama tidak terdapat dalil yang melarang. Wallohu a’lam.

Syarah Muslim Lin-Nawawi, Juz ; 4  Hal : 70 - 71

(باب ما يقال اذا أراد دخول الخلاء)
قوله (كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا دخل الخلاء قال اللهم إني أعوذ بك من الخبث والخبائث) وفي رواية إذا دخل الكنيف وفي رواية (أعوذ بالله من الخبث والخبائث أما الخلاء فبفتح الخاء والمد والكنيف بفتح الكاف وكسر النون والخلاء والكنيف والمرحاض كلها موضع قضاء الحاجة وقوله إذا دخل معناه إذا أراد الدخول وكذا جاء مصرحا به في رواية البخاري قال كان إذا أراد أن يدخل وأما الخبث فبضم الباء وإسكانها وهما وجهان مشهوران في رواية هذا الحديث ونقل القاضي عياض رحمه الله تعالى أن أكثر روايات الشيوخ الإسكان وقد قال الإمام أبو سليمان الخطابي رحمه الله تعالى الخبث بضم الباء جماعة الخبيث والخبائث جمع الخبيثة قال يريد ذكران الشياطين وإناثهم قال وعامة المحدثين يقولون الخبث بإسكان الباء وهو غلط والصواب الضم هذا كلام الخطابي وهذا الذي غلطهم فيه ليس بغلط ولا يصح إنكاره جواز الإسكان فإن الإسكان جائز على سبيل التخفيف كما يقال كتب ورسل وعنق وأذن ونظائره فكل هذا وما أشبهه جائز تسكينه بلا خلاف عند أهل العربية وهو باب معروف من أبواب التصريف لايمكن إنكاره ولعل الخطابي أراد الإنكار على من يقول أصله الإسكان فإن كان أراد هذا فعبارته موهمة وقد صرح جماعة من أهل المعرفة بأن الباء هنا ساكنة منهم الإمام أبوعبيد إمام هذا الفن والعمدة فيه واختلفوا في معناه فقيل هو الشر وقيل الكفر وقيل الخبث الشياطين والخبائث المعاصي قال بن الأعرابي الخبث في كلام العرب المكروه فإن كان من الكلام فهو الشتم وإن كان من الملل فهو الكفر وإن كان من الطعام فهو الحرام وإن كان من الشراب فهو الضار والله أعلم وهذا الأدب مجمع على استحبابه ولا فرق فيه بين البنيان والصحراء والله أعلم

Faidhul Qodir Syarah Jami’us Shoghir, Juz : 5  Hal : 177
كان له قدح من عيدان) بفتح العين المهملة وسكون التحتية ودال مهملة جمع عيدانة وهي النخلة السحوق المتجردة والمراد هنا نوع من الخشب وكان يجعل (تحت سريره) أي موضوع تحت سريره قال ابن القيم: وكان يسمى الصادر قال الراغب: والسرير مأخوذ من السرور لأنه في الغالب لأولي النعمة قال: وسرير الميت تشبيه به في الصورة وللتفاؤل بالسرور (يبول فيه بالليل) تمامه كما عند الطبراني بسند قال الهيثمي: رجاله رجال الصحيح فقام وطلبه فلم يجده فسأل فقالوا: شربته برة خادم أم سلمة التي قدمت معها من أرض الحبشة فقال: لقد احتظرت من النار بحظار اه. قيل وذا الخبر لا يعارضه خبر الطبراني أيضا في الأوسط بإسناد قال الولي العراقي: جيد لا ينقع بول في طست في البيت فإن الملائكة لا تدخل بيتا فيه بول لأن المراد بانقاعه طول مكثه وما في الإناء لا يطول مكثه بل تريقه الخدم عن قرب ثم يعاد تحت السرير لما يحدث

HUKUM MEMBERI NAMA PADA HEWAN


Beberapa riwayat hadits menunjukkan bahwa Rasulullah juga memberikan nama pada beberapa hewan yang beliau miliki, diantaranya adalah sebagai berikut;


كَانَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَاقَةٌ تُسَمَّى العَضْبَاءَ
"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memiliki unta yang dinamakan dengan Al 'Adhbaa'” (Shahih Bukhari, no.2872)

كَانَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَائِطِنَا فَرَسٌ يُقَالُ لَهُ اللُّحَيْفُ
"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memiliki kuda yang berada di kebun kami yang diberi nama Al Luhaif" (Dhahih Bukhari, no.2855)

Begitu juga yang dilakukan oleh sahabat-sahabat Nabi, mereka juga biasa memberikan nama untuk hewan tunggangannya,

عَنْ قَتَادَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ أَنَسًا، يَقُولُ: كَانَ فَزَعٌ بِالْمَدِينَةِ، فَاسْتَعَارَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَسًا مِنْ أَبِي طَلْحَةَ يُقَالُ لَهُ المَنْدُوبُ
“Dari Qatadah berkata, aku mendengar Anas berkata: "Di Madinah terjadi kegaduhan, lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam meminjam kuda milik Abu Thalhah yang bernama Al Mandub” (Shahih Bukhari, no.2627)

Berdasarkan hadits-hadits tersebut para ulama’ mengambil dalil kebolehan memberikan nama pada hewan, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Al-Muhallab, Imam Al-Baghowi dan Imam Al-Munawi.

Kesimpulannya, memberikan nama bagi hewan itu hukumnya boleh, namun hendaknya tidak menggunakan nama-nama yang dimuliakan dalam agama Islam, seperti nama-nama Allah, nama-nama para Nabi dan yang lainnya. Wallahu a’lam.

Syarah Al Bukhari Li Ibnu Al Batthol, Juz : 5  Hal : 59 - 60

كان للرسول (صلى الله عليه وسلم) فى حائطنا فرس، يقال له: اللحيف. 1711 / وفيه: أبو قتادة، أنه خرج مع الرسول، (صلى الله عليه وسلم) ، فتخلف أبو قتادة، فركب فرسا يقال له: الجرادة. . . الحديث. 1712 / وفيه: معاذ بن جبل، كنت رديف النبى، (صلى الله عليه وسلم) ، على حمار، يقال له: عفير، فقال: (يا معاذ، هل تدرى حق الله على عباده) ؟ الحديث. 1713 / وفيه: أنس، كان فزع بالمدينة، فاستعار الرسول (صلى الله عليه وسلم) فرسا يقال له: المندوب، فقال: (ما رأينا من فزع، وإن وجدناه لبحرا) . قال البخارى: قال بعضهم: اللخيف بالخاء. قال المهلب: فقه هذا الباب جواز تسمية الدواب بأسماء تخصها غير أسماء جنسها

Syarah As Sunnah Li Al Baghowi, Juz : 8  Hal : 221
أخبرنا عبد الواحد بن أحمد المليحي، أنا أحمد بن عبد الله النعيمي، أخبرنا محمد بن يوسف، نا محمد بن إسماعيل، أنا آدم، نا شعبة، عن قتادة، قال: سمعت أنسا، يقول: " كان فزع بالمدينة فاستعار النبي صلى الله عليه وسلم فرسا من أبي طلحة، يقال له: المندوب فركب، فلما رجع، قال: ما رأينا من شيء، وإن وجدناه لبحرا ". - إلى أن قال- وفيه إباحة تسمية الدواب

Faidlul Qodir, Juz : 5  Hal : 173
كان فرسه يقال له المرتجز) قال ابن القيم: وكان أشهب (وناقته القصواء) بضم القاف والمد قيل هي التي تسمى العضباء وقيل غيرها (وبغلته الدلدل) بضم فسكون ثم مثله سميت به لأنها تضطرب في مشيها من شدة الجري يقال دلدل في الأرض ذهب ومر يدلدل ويتدلدل في مشيه يضطرب ذكره ابن الأثير (وحماره عفير) فيه مشروعية تسمية الفرس والبغل والحمار وكذا غيرها من الدواب بأسماء تخصها غير أسماء أجناسها